"RIBET"NYA RUKYAT
Oleh : Amirudin A. Faza (Sekretaris Pelaksana Majlis Tarjih PP Muhammadiyah)
16 Juli 2013 pukul 14:11
Tulisan ini bukan tulisan yang serius, jadi tidak perlu ditanggapi dengan serius juga. Tulisan ini hanya untuk memberikan gambaran, bahwa secara teknis, sesuatu yang tampak mudah tetapi ternyata tidak sesederhana yang terbayang. Sebaliknya, sesuatu yang tampak sulit bisa jadi sebenarnya hal yang cukup mudah dilakukan.
Baiklah, ini terkait dengan adanya perbedaan
metode penentuan awal bulan kamariah, hisab dan rukyat. Tidak dipungkiri,
perbedaan metode ini sedikit banyak telah menyita perhatian jutaan umat Islam.
Bahkan, beberapa stasiun TV swasta pun menjadikan hal ini sebagai topik utama
dalam program-program mereka. Prinsipnya, perbedaan yang terjadi sesungguhnya
tidak perlu dibesar-besarkan.Umat Islam tentu sudah sangat dewasa, dikarenakan
sepanjang sejarah umat Islam berbagai perbedaan memang acap kali terjadi.
Sebagaimana jamak diketahui, hisab adalah metode
untuk menentukan awalbulan kamariah dengan perangkat ilmu, sementara rukyat
adalah metode untuk menentukan awal bulan kamariah dengan teknik observasi/ pengamatan.
Tulisan ini ingin memberikan gambaran, betapa ternyata rukyat, yang selama ini
sering disebut sebagai metode yang mudah, ternyata tidak sesederhana
mengucapkannya. Penulis beberapa kali mengikuti proses rukyat hilal, sehingga
sedikit banyakmengalami beberapa problem dalam proses rukyat ini.
Di antara hal-hal yang menjadi problem rukyat
dan menjadikan rukyat menjadi sesuatu yang “ribet” adalah sebagai berikut.
1. Problem Alam
Aktifitas rukyat sangat tergantung pada kondisi
alam. Oleh karenanya, orang yang ingin melakukan aktifitas rukyat harus tahu
secara benar hal-hal yang terkait dengan alam ini. Kondisi alam di Arab Saudi
memang tergolong sangat mendukung untuk dilakukan rukyat, karena di tengah
padang pasir yang luas akan sangat mudah menghamparkan pandangan ke kaki
langit. Belumtermasuk faktor kecerahan langit yang juga mendukung. Berbeda
dengan di Indonesia, orang harus pandai-pandai mencari tempat yang tepat untuk
dapat memperoleh lanskap kaki langit yang luas. Rata-rata rukyat di Indonesia
kemudian memilih kawasan pantai sebagai tempat rukyat. Itu pun masih ada
persoalan serius, karena rata-rata senja di Indonesia adalah senja berawan,
sehingga sulit untuk mendapatkan kaki langit. Oleh itulah, muncul beberapa hal
yang menjadikan “ribet”nya rukyat, antara lain adalah:
§ Harus
menentukan tempat yang cocok, yakni kawasan yang menyediakan lanskap kaki
langit yang luas di belahan barat, dari sudut selatan sampai sudut utara. Jadi,
rukyat tidak bisa dilakukan di atas genteng masjid ditengah kota, karena tidak
akan bisa menemukan lanskap kaki langit, tertutup gedung-gedung atau yang lain.
§ Harus
tahu, ke arah mana rukyat dilakukan. Rukyat tentu menghadap ke arah barat,
sehingga tidak mungkin melakukan rukyat di pantai yang menghadap ke timur,
karena matahari magrib selalu ada di kaki langit sebelah barat.
§ Harus
tahu, ke arah mana pandangan mata diarahkan. Asal tahusaja, posisi bulan dan
matahari itu tidak konstan, ada kalanya di atas kaki langit barat agak ke
selatan, ada kalanya di kaki langit barat agak ke utara. Nah, jika perukyat
salah mengarahkan pandangan mata atau teleskopnya, sudah pasti akan gagal
rukyat, meski posisi hilal sudah cukup tinggi dan cuaca cerah.
§ Harus
tahu, sebenarnya apasih yang akan dirukyat? Seperti apa bentuk hilal itu?
Lengkungan hilal itumenghadap ke atas, ke bawah, ke kiri atau ke kanan? Nah,
kalau bentuk hilal saja tidak tahu, terus apa yang mau dirukyat? Sebab hilal
akan muncul tanpa memberitahu, tidak mengeluarkan suara seperti kereta api,
tidak pula muncul asap seperti hantu dalam film.
§ Harus tahu, ada benda-benda langit lain yang siap muncul selain hilal. Jangan dikira,
saat terbenam matahari itu, hanya akan muncul satu benda langit, yaitu hilal,
karenaada benda langit lain yang akan “terbit” seiring dengan terbenamnya
matahari. Atau bahkan cahaya dari lampu pesawat terbang atau kapal di tengah
laut yang muncul seiring dengan datangnya malam.
2. Problem Individu
Aktifitas rukyat sejatinya dapat dilakukan oleh
siapa saja, hanya soal hasil rukyat yang acceptable, tentu tidak
bisa diambil dari sembarang orang. Oleh sebab itu, faktor individu sangat
mempengaruhi aktifitas rukyat dan hasilnya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi
rukyat dari faktorindividu antara lain adalah:
§ Dari segi
fisik, kemampuan pandangan mata perukyat sangat menentukan. Seorang yang
mengalami gangguan mata, atau kesehatan matanya tidak baik, tentu tidak akan
dapat melakukan rukyat dengan baik. Bahkan, mata yangnormal sekalipun, akan
sangat sulit mendapatkan melalui pandangan matanya, suatu objek dengan jarak
yang begitu jauh. Oleh sebab itu, kemudian dipakai alat-alat bantu agar mampu
mendekatkan objek hilal yang akan diamati, sehingga lebih mudah untuk dikenali.
§ Dari segi motivasi, setiap perukyat harus punya motivasi yang bersih, netral dan tentu saja
lil-Lahita’ala. Perukyat yang sudah pesimis hilal tidak mungkin bisa dilihat,
tentu akan mempengaruhi kegiatannya melakukan rukyat. Sebaliknya, perukyat yang
sudah terekspektasi tinggi bahwa hilal akan terlihat, bisa jadi nanti sesuatu
yang bukan hilal dikiranya hilal.
§ Dari segi
pengalaman, semakin sering orang melakukan rukyat secara serius, misalnya
melakukan rukyat setiap akhir bulan kamariah, tidak hanya akhir Syakban, tentu
ia akan semakin mengenal apa yang sesungguhnya ingin dilihat. Sebaliknya, perukyat
yang hanya melakukan aktifitas rukyat sekali ataud ua kali dalam setahun, yakni
sebelum Ramadan dan Syawal, tentu saja pengenalannya terhadap aktifitas rukyat
tidak sebaik orang yang merukyat setiap bulan.
§ Dari segi keilmuan, seorang perukyat tentu perlu mengetahui ilmu-ilmu pendukung rukyat,
untuk lebih mengetahui karakteristik benda langit, menguasai alat-alat bantu
rukyat dan beberapa ilmu lain. Dan untuk mengetahui ilmu-ilmu pendukung rukyat
itu tentu saja tidak semudah melongokkan mata ke kaki langit sebelah barat.
3. Problem Ketidakpastian
Harus diakui, rukyat memang menimbulkan
ketidakpastian hari.Apakah esok sudah merupakan hari baru di bulan baru, atau
masih hari terakhir di bulan yang sedang berjalan. Dan memang hanya sebatas
itulah fungsi rukyat. Oleh karena itu, dengan rukyat manusia tidak mungkin
dapat membuat kalender, karena kalender hanya dapat dibuat dengan perhitungan
hisab. Di samping itu, kenyataan hidup saat ini membutuhkan good
management, termasuk dalam hal penjadwalan berbagai kegiatan. Jika masih
berharap pada hasil rukyat, makasegala bentuk penjadwalan berbagai hal di dunia
ini akan mengalami kekacauan.
4. Problem Istidlal
Terakhir, banyak orang sering memaknai hadis
tentang rukyat secara tekstual, bahkan tidak jarang juga gagal paham. Dikira
hadis-hadis itu perintah untuk melakukan rukyat, bahkan dikira Nabi saw sendiri
yang melakukan rukyat, sehingga menanti munculnya anak bulan ini dianggap
sebagai ibadah yang tidak boleh ditinggalkan. Ini akibat dari tidak peka membaca
dalil teks. Dalilteks tentu tidak berdiri sendiri, karena ada konteks yang
menyertainya. Dalilteks bisa jadi tidak hanya satu, melainkan banyak teks-teks
lain yang satutema. Dalil teks dari Nabi saw pasti ada sumber utamanya dari
al-Qur’an, sehingga harus dikonfirmasi pada sumber utamanya. Oleh sebab itu,
kajian terhadap teks-teks tentang rukyat memang harus dilakukan secara
mendalam, tidak hanya dibaca dari satu teks saja, memisahkannya dari teks lain,
hanya membaca secara tekstual, tidak mempertimbangkan hal-hal yang kontekstual.
Walau ini mungkin juga termasuk tergesa-gesa, tetapi hemat penulis, dalil-dalil
teks tentang rukyat bermaksud menunjukkan kepastian datangnya kewajiban puasa
padahari-hari yang pasti. Hari-hari yang pasti itu dapat diketahui dengan
berbagai cara, sekurang-kurangnya dengan hisab dan rukyat.
Demikian tulisan ini, sekedar untuk memberikan
gambaran bahwa melakukan rukyat tidak semudah copy paste artikel/postingan pada
media sosial. Rukyat memang “ribet”, itu harus diakui. Tetapi bagi yang tetap
ingin melakukan rukyat untuk memastikan kapan dia harus berpuasa atau berbuka,
itu adalah hak individu yang tidak bisa diganggu gugat, sama posisinya dengan
mereka yang memilih menggunakan hisab. Yang perlu dicatat, rukyat sebagai salah
satu aktifitas observasi/pengamatan adalah hal yang sangat bagus dilakukan,
bahkan sekaligus sebagai bentuk tadabbur alam mensyukuri nikmat Tuhan. Namun,
hasil rukyat tetap tidak tepat jika digunakan sebagai penentu awal-awal bulan
kamariah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar