Kamis, 26 Juni 2014

Mari Sambut Ramadhan !




Alhamdulillah, saat ini kita sudah masuk pada bulan Rajab 1435 H, yang secara urutan dalam kalender hijriyah berarti sekitar 1 bulan lagi kita akan memasuki bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Tentu ini menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia bahwa jika anda masih memiliki “hutang” shaum pada ibadah shaum Ramadhan tahun lalu, maka bersegeralah anda meng-qadha-nya, sekaligus menjadi harapan bagi kita semua agar Allah menakdirkan kita masih bisa bertemu Ramadhan kali ini dan dapat menjalankan segala ibadah dengan kemuliaanya secara optimal.  Tidak lupa, penulis akan mengetengahkan urutan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah yang saat ini mungkin kalah populer dibanding nama-nama bulan miladiyah (masehi), yaitu :
  1. Muharram
  2. Shafar,
  3. Rabi’ul Awwal,
  4. Rabiu’ul Akhir,
  5. Jumadil Awwal,
  6. Jumadil Akhir,
  7. Rajab,
  8. Sya’ban,
  9. Ramadhan,
  10. Syawwal,
  11. Dzulqo’idah, dan
  12. Dzulhijjah.
Namun, seperti halnya pada tahun yang sudah-sudah yang juga merupakan kekhasan umat Islam di Indonesia yang tentu kita berharap akan segera berakhir bahwa akan hadir beberapa pertanyaan yang akrab jika mendekati bulan Ramadhan dan Syawwal, yaitu “Apakah akan terjadi lagi perbedaan ?”.


Untuk menjawab pertanyaan yang sederhana namun memiliki konsekwensi yang cuku luar biasa tersebut, penulis mencoba memberikan sedikit ulasan mengenai penetapan bulan Ramadhan, Syawwal sekaligus Dzulhijjah berdasarkan 3 kriteria-kriteria yang cukup tren untuk umat Islam di Indonesia, yaitu Kriteria : Wujudul Hilal (WH), Imkanur Ru’yah MABIMS (IR 2-3-8), dan Imkanur Ru’yah LAPAN (4-6,4).

Berikut pula penulis sampaikan kriteria-kriteria 3 sistem kalender hijriyah diatas :1)    Wujudul Hilal (WH)(i)    Telah terjadi ijtima’ (konjungsi),(ii)   Ijtima’ terjadi sebelum Matahari terbenam, dan(iii)  Pada saat Matahari terbenam  Bulan masih di atas ufuk2)   Imkanur Ru’yah MABIMS (IR 2-3-8)(i)   Ketinggian minimal 2o (derajat) ,(ii)   Jarak bulan-matahari minimal 3o (derajat), dan(iii)  Umur  bulan minimal 8 jam3)   Imkanur Ru’yah LAPAN (IR 4-6,4)(i)   Beda tinggi Bulan-Matahari 4o (derajat), dan(ii)  Jarak Bulan-Matahari 6,4o (derajat).

Dari kriteria-kriteria sistem kalender diatas, mari kita lihat data astronomis untuk bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhhijjah. Data diambil dari aplikasi Accurate Hijri Calculator 2.2.1 karya Abdurro’uf untuk Lokasi Jakarta Pusat (6o11’8” LS dan 106o49’46” BT) , yaitu :

(1)  Ramadhan 1435 Ha.   Ijtima’                                       
a.1    Tanggal Ijtima’   = Jumat, 27 Juni 2014  
a.2    Waktu Ijtima’     = 15:8:28



Gambar 1.Simulasi Ijtima’ Jum’at 27 Juni 2014 Pkl. 15:8:28 
Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium

b.    Matahari  
b.1  Terbenam              = 17:48:40
b.2  Azimuth                 = 293o21’35”
c.    Hilal/Crescent
c.1  Altitude/tinggi         = -0o11’14”
c.2  Azimuth                 = 288o36’40”
c.3  Beda Azimuth        = 4o44’54”
c.4  Umur Hilal              = 2:40:12


Gambar 2Simulasi  Jum’at 27 Juni 2014 Pkl. 17:48:40 (saat Sunset
Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium

(2)    Syawwal 1435 Ha.    Ijtima’                                       
a.1    Tanggal Ijtima’     = Ahad, 27 Juli 2014
a.2    Waktu Ijtima’       = 5:41:50


Gambar 3.Simulasi Ahad 27 Juli 2014 Pkl. 5:41:50 
Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium


b.    Matahari
b.1  Terbenam          = 17:54:7
b.2  Azimuth             = 289o11’30”

c.    Hilal/Crescent
c.1  Altitude/tinggi     = 3o8’23”
c.2  Azimuth             = 283o39’7”
c.3  Beda Azimuth    = 5o32’23”
c.4    Umur Hilal       = 12:12:17


Gambar 4.Simulasi  Ahad 27 Juli 2014 Pkl. 17:54:07 (saat Sunset) L
okasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium


(3)    Dzulhijjah 1435 H  

a.    Ijtima’                                            

a.1    Tanggal Ijtima’  = Rabu, 24 September 2014
a.2    Waktu Ijtima’     = 13:13:44


Gambar 5.Simulasi  Rabu, 24 September 2014 Pkl. 13:13:44 
Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium

b.    Matahari

b.1    Terbenam                          =  17:45:56

b.2    Azimuth                             =  269o22’15”

c.    Hilal/Crescent
c.1    Altitude/tinggi                     =  -0o8’45”
c.2    Azimuth                             =  267o23’15”
c.3    Beda Azimuth                    =  1o59’2”

c.4    Umur Hilal                         =  4:32:12



(a)

 
(b)

Gambar 5.Simulasi  Rabu, 24 September 2014 Pkl. 17:46:56 (saat Sunsettanpa horizon 
(a) dan dengan horizon (b) Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium


Dari data-data diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa :
-   Bulan Ramadhan 1435 H :
(i)  Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Ramadhan 1435 H jatuh pada tanggal 27 Juni 2014 M, artinya sejak Matahari terbenam (Maghrib) pada Jum’at 27 Juni 2014 M telah masuk bulan Ramadhan 1435 H mengingat dalam sistem kalender hijriyah hari dimulai pada saat Matahari terbenam (Sunset) dan pada tanggal sabtu 28 Juni 2014 M akan melaksanakan ibadah shaum untuk hari pertama,
(ii) Menurut Imkanur Ru’yah MABIMS (IR 2-3-8) jatuh pada 28 Juni 2014 M, artinya pada saatmaghrib pada Jum’at 28 Juni 2014 M baru masuk bulan Ramadhan karena saat maghribpada tanggal 27 Juni 2014 M belum terpenuhinya syarat-syarat yang ada pada kriteria IR 2-3-8 ini, dan pada Ahad 29 Juni 2014 baru melaksanakan ibadah shaum  yang pertama,
(iii)  Menurut Imkanur Ru’yah LAPAN (IR 4-6,4) sama seperti IR 2-3-8

-   Bulan Syawwal 1435 H :
(i)  Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Syawwal 1435 H jatuh pada 27 Juli 2014 M, artinya pada saat maghrib pada Ahad 27 Juli 2014 M telah masuk bulan Syawwal 1435 H, dan pada Senin 28 Juli 2014 M merupakan hari Idul Fitri,
(ii)  Untuk IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4) bulan Syawwal 1435 H sama menurut kriteria Wujudul Hilal (WH)

-   Bulan Dzulhijjah 1435 H :
(i)   Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Dzulhijjah 1435 H jatuh pada Rabu 24 September 2014 M, artinya sejak Matahari terbenam (maghrib) pada Rabu 24 September 2014 telah masuk bulan Dzulhijjah 1435 H, dan Idul Adha akan jatuh pada 4 Oktober 2014 M (sejakmaghrib/sunset pada Jum’at 3 Oktober 2014 M telah masuk pada 10 Dzulhijjah 1435 H, mengingat sekali lagi bahwa pergantian tanggal pada kalender hijriyah adalah saat Matahari terbenam) dan berdasarkan Wujudul Hilal (WH) ummat Islam akan melaksanakan Sholat Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014 M,
(ii)   Menurut IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4) bulan Dzulhijjah 1435 H jatuh pada Kamis 25 September 2014 M, artinya sejak Matahari terbenam (maghrib) pada Kamis 25 September 2014 baru masuk bulan Dzulhijjah 1435 H, dan Idul Adha akan jatuh pada 5 Oktober 2014 M (sejak maghrib/sunset pada Sabtu 4 Oktober 2014 telah masuk 10 Dzulhijjah 1435 H) dan berdasarkan IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4) ummat Islam akan melaksanakan sholat Idul Adha pada Ahad 5 Oktober 2014 M.

Tabel 1.
Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah 1435 berdasarkan Wujudul Hilal (WH), IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4)


Kriteria
Ramadhan 1435 H
Syawwal 1435 H
Dzulhijjah 1435 H
Idul Adha 1435
WH
27 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
24 September 2014 M
4 Oktober 2014 M
IR MABIMS
28 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
25 September 2014 M
5 Oktober 2014 M
IR LAPAN
28 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
25 September 2014 M
5 Oktober 2014 M


Keterangan :

Tanggal diambil berdasarkan permulaan kalender hirjiyah yang dimulai saat maghrib.


Demikian ulasan sinngkat yang penulis paparkan untuk menggambarkan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah 1435 H berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (WH), Imkanur Ru’yah MABIMS (IR 2-3-8) danImkanur Ru’yah LAPAN (IR 4-6,4). Memang masih terdapat perbedaan, jatuhnya awal Ramadhan dan awal Dzulhijjah, namun perbedaan itu bukanlah suatu yang harus di besar-besarkan. Sekali lagi, penulis mengajak untuk segenap umat Islam khususnya di seluruh Indonesia untuk mepersiapkan diri menyambut datangnya bulan yang dinanti-nanti yaitu bulan Ramadhan, dan bagi yang masih memiliki “hutang”/tanggungan ibadah shaum Ramadhan tahun lalu segeralah untukmelunasinya dengan berpuasasunnah. Semoga ulasan singkat ini bermanfaat, dan tentunnya penulis terbuka atas kritik dan saran terkait kekurangan dan ke-alfai-an tulisan ini.
Wa Allahu a’lam bishshowwab

Fastabiqul Khoirot
Nasrun Min Allah wa Fathun Qoriib
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh

Adi Damanhuri
Sekretaris PD. Pemuda Muhammadiyah Kota Depok
Anggota Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Barat


Mahasiswa Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB)

Rabu, 25 Juni 2014

Hadits-Hadits Tentang
RU'YAT, ISTIQDAR DAN ISTIKMAL
Dalam Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan
Oleh Drs. Dadang Syaripudin MA. (Wakil Ketua PWM Jawa Barat)



Pendahuluan

Pelaksanaan peribadatan dalam Islam, khususnya ibadah mahdhah sudah ditentukan waktu dan tempatnya. Penetapan waktu-waktu tersebut didasarkan atas posisi  bulan atau matahari terlihat dari bumi. Untuk mengawali dan mengakhiri ibadah shaum Ramadhan misalnya, ditetapkan berdasarkan posisi bulan terlihat dari bumi. Sedangkan batas waktu hariannya (imsak – ifthar), ditetapkan berdasarkan posisi matahari terlihat dari bumi, dianalogikan dengan waktu shalat shubuh dan maghrib.

Untuk mengetahui posisi bulan dan matahari tersebut dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan khususnya, dijelaskan dalam sejumlah periwayatan hadits yang beragam baik sanad maupun matannya, serta terkondisifikasikan dalam beberapa kitab hadits standard.

Abdullah ibn 'Umar, r.a. dengan rawi-rawi:
-  Malik ibn Anas (93-179);
-  Abd al-Razaq(126-211);
-  Muhammad ibn Idris al-Syafi'I (150-204);
-  Ahmad ibn Hanbal (164-267);
-  Abu Bakr ibn Abi Syaybah (159-235); 
-  Abu Muhammad al-Darimi (181-255);
-  Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256);
-  Abu Dawud al-Sijistani (202-275);
-  Muslim ibn al-Hajaj (206-261);
-  Muhammad ibn Yazid al-Qazwini, Ibn Majah (207-275);
-  Abu Ya`la, Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307);
-  Ahmad ibn Syu`ayb al-Nasa'i (215-303);
-  Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
-  Muhammad ibn Hiban (w. 354); 15) Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385);  
-  Muhammad ibn `Abd Allah al-Hakim (321-405); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn Abu Bakr al-Bayhaqi (384-358).

Abdullah ibn `Abbas, r.a. dengan rawi-rawi :
-  Malik ibn Anas (93-179);
-  Abd al-Razaq (126-211);
-  Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204);
-  Abd Allah ibn al-Zubayr al-Humyadi (W. 219);
-  Ali ibn al-Ja`d al-Baghdadi (134-230);
-  Aòmad ibn Òanbal (164-267);
-  Abd Allah ibn `Abd al-Rahman al-Darimi (181-255);
-  Al-Harits ibn Abi Utsamah (186-282);
-  Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275);
-  Muslim ibn al-Òajaj al-Naysâbûrî (206-261);
-  Abu Isa al-Turmudzi (209-279);
-  Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307);
-  Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303);
-  Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
-  Muhammad ibn Hiban (w. 354);
-  Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360);
-  Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385);
-  Muhammad ibn `Abd Allah al-Hakim (321-405); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

Abu Hurayrah, r.a.  dengan rawi-rawi:
-  Abd al-Razaq (126-211);
-  Ali ibn al-Ja`d al-Baghdadi (134-230);
-  Muhammad ibn Idris al-Syafi'I (150-204);
-  Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204);
-  Ibnu Rahawayh, Ishaq ibn Ibrahim (161-238);
-  Aòmad ibn Òanbal (164-267);
-  Abu Bakr ibn Abi Syaybah (159-235); 
-  Abu Muhammad al-Darimi (181-255);
-  Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256);
-  Muslim ibn al-Òajaj al-Naysâbûrî (206-261);
-  Muhammad ibn Yazid al-Qazwini (207 – 275);
-  Abu Isa al-Turmudzi (209-279);
-  Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307);
-  Abd Allah ibn `Ali ibn al-Jarud (w.307);
-  Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303);
-  Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
-  Muhammad ibn Hiban (w. 354);
-  Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360);
-  Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

Aisyah r.a., dengan rawi-rawi:
-  Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275);
-  Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
-  Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

Huzhaifah r.a. dengan rawi-rawi:
-  Abu Dawud al-Sijistani (202 – 275);
-  Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah (223-311);
-  Muhammad ibn Hiban (w. 354); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458).

Thalaq ibn `Ali, r.a. dengan rawi-rawi:
-  Ahmad ibn Hanbal (164-267);
-  Sulayman ibn Ahmad Al-Thabrani (260-360);
-  Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458).

Jabir ibn `Abd Allah, r.a. dengan rawi:
-  Abu Ya`la Ahmad ibn Ali ibn al-Mutsanna (210-307); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458)

Umar ibn al-Khathab r.a. dengan rawi:
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-Bakr al-Bayhaqi (384-458)

Abu Sa`id al-Khudri, r.a. dengan rawi:
-  Al-Rabi` ibn Habib ibn `Umar al-Azda.

Al-Hasan, r.a. dengan rawi:
-  Abd al-Razaq (126-211).

Abu Bakrah, r.a. dengan rawi:
-  Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204);
-  Ahmad ibn Hanbal (164-267); dan
-  Ahmad ibn al-Husayn, Abu al-bakr al-Bayhaqi (384-458).

Rafi ibn Khudayj r.a. dengan rawi:
-  Ali ibn `Umar al-Daruquthni (306-385).

Ash-hab Muhammad Rasulullah saw. dengan rawi-rawi:
-  Al-Harits ibn Abi Utsamah (186-282); dan
-  Ahmad ibn Syuayb al-Nasa'i (215-303)

Dengan keragaman redaksi matan, sebagai yang terlampir dalam bentuk matrik. Akan tetapi, sesuai dengan kebutuhan (sudah dipandang refresentatif) analisis hanya dilakukan kepada hadits-hadits yang bersanadkan: 1) `Abd Allah ibn `Umar; 2) `Abd Allah ibn `Abbas; dan Abu Hurayrah.

Riwayat bi al-Ma`na atau al-Ziyadah `an al-Rawi; Penafsiran Rawi Al-Hadits

Dengan melihat struktur redaksi yang demikian beragam, mengindikasikan bahwa dalam periwayatan hadits-hadits tersebut terjadi riwayat al-hadits bi al-ma`na. Hal ini berarti, terjadi intervensi subjektivitas rawi.
Dalam hal ini, terjadi dua hal:
1.  struktur redaksi semata, karena adanya perbedaan tarikh mutun al-hadits menyangkut pengalaman dan pengetahuan rawi terhadap hadits yang diriwayatkannya.
2.  menyakut substansi,  karena dipengaruhi oleh faham dan penafsiran (madzhab rawi).

فإن غم عليكم فأكملوا  العدة ثلاثين (الشافعي، البخاري)

Menurut penilaian Ibn `Abd al-Bar, dari hadits-hadits yang bersanadkan `Abd Allah ibn `Umar adalah matan ""فاقدروا له;

والمحفوظ في حديث ابن عمر فاقدروا له (التمهيد: 14\338)

Ulama hadits terpeta dalam 3 kelompok: 1) ada yang menolak riwayat bi al-makna secara mutlak; 2) ada yang menerima secara mutlak; dan 3) ada yang menerima secara bersyarat.
Syarat-syarat yang dimaksud terkait dengan kridibelitas rawi, terutama pengetahuan dan intelektualias rawi.

Ragam Penafsiran terhadap "Faqduru Lahu/Faqdirulah

Secara etimologis, Uqdur berarti "tetapkanlah" seperti dlm hadits istikharah "فاقدره لي ويسره", juga berarti: lihatlah dan pikirkanlah, seperti dalam hadits "فاقدرو قدر الجارية الحديثة السن" dan juga berarti sempitkanlah seperti dalam ayat "فقدر عليه رزقه"

Jumhur  : hadits tersebut bersifat  mujmal "lahu", antara hilal, bulan Sya'ban atau Ramadhan karena itu diperlukan bayan dari hadits lain yang mufassar, yakni hadits-hadits yang mengharuskan dilakukannya istikmal. Sehingga "faqduru lah" berarti istikmal bulan Sya'ban atau Ramadhan.

Ahmad ibn Hanbal: Mempersingkat (menyempitkan) masa bulan Sya'ban, sehingga menjadi 29 hari.

Sebagian Fuqaha Bashrah: Mengamati, meneliti dan menghitung-hitung posisi bulan.

Ibn Syurayj dari Syafi'iyah: Faqduru lahu dan Istikmal memiliki dua sasaran yang berbeda;
Faqduru lahu : untuk orang Khawash dengan melakukan perhitungan posisi bulan dan matahari.
Fa akmilu … : untuk orang `Awwam dengan istikmal bulan Sya'ban menjadi 30 hari

Ibn 'Umar r.a. : Jika hilal tidak terlihat karena mendung pada malam 30 Sya'ban, esok harinya ia berpuasa. Akan tetapi jika hilal tidak terlihat sedangka cuaca cerah, esok harinya belum berpuasa, puasa baru dilakukannya lusa hari (istikmal).

قال نافع فكان عبد الله إذا مضى من شعبان تسع وعشرون يبعث من ينظر فإن رؤى فذاك وإن لم ير ولم يحل دون منظره سحاب ولا قتر أصبح مفطرا وإن حال دون منظره سحاب أو قتر أصبح صائما
  • راوي الحديث يفي المتقدم وعمله به تفسير له
  • عن عائشة أنها قالت : لان أصوم يومأ من شعبان أحب إلي من أن أفطر يوما من رمضان
  • العبرة برأي الراوي لا بروايته لزم الاخذ به كالحنفية

Rukyat atau Istikmal v.s. Hisab Kriteria Wujud al-Hilal

Menurut jumhur fuqaha, sekalipun awal bulan itu dapat diketahui melalui proses perhitungan dan bantuan peralatan teknologi, namun untuk menentukan waktu-waktu peribadatan (puasa dan haji) hanya boleh dengan cara rukyat saja.
Harf lam dalam matn hadis “shumu li ru’yatih" adalah “li al-ta‘lîl” sehingga dipahami menjadi berpuasalah kalian “karena” melihat hilal. Keterlihatan hilal menjadi ‘illat (sabab al-hukmi) adanya keharusan berpuasa dan berbuka (‘îd al-fiùri), sebagai yang ditegaskan oleh al-Mubarakfuri[1]

قوله صوموا لرؤيته أي لأجل رؤية الهلال فاللام للتعليل والضمير للهلال على حد تورات بالحجاب اكتفاء بقرينة السياق

Redaksi matan hadits-hadits ru`yat al-hilal, taqdir dan istikmal, dalam perspektef Ushul al-Fiqh (qawaid lughawiyah)  dapat dikelompokkan dalam tiga redaksi matn:
 Pertama,
صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

Huruf “lam” pada kata “li ru’yatih” yang sebenarnya buknlah lam li al-ta‘lîl yang menunjukkan sebab.

Akan tetapi menurut Al-Ùaybi “li al-waqti, li al-tawqît”[2] dan Ibn Daqîq al-‘Id “li al-ta’qît” yang menunjukkan waktu secara majaz;. Sehingga perintah dalam hadis tersebut berarti: berniatlah berpuasa pada saat hilal sudah terlihat atau dengan kata lain berpuasa sesudah hilal terlihat. Sebaliknya, jika lam li al-ta‘lîl maka perintah tersebut lanjut Ibn Daqîq al-‘Id berarti, berpuasa sebelum hilal terlihat[3]. Analisis al-Thaybi atau Ibn Daqiq al-Id tersebut, didukung oleh keberadaan hadits-hadits lain yang menggunakan redaksi matan yang bervariasi dan tidak menggunakan huruf “lam”, sebagai yang sudah disebutkan di atas. Redaksi yang kurang lebih sama, terdapat pula dalam perintah shalat

Jika hadits-hadits di atas dipahami sebagai perintah (tidak langsung) melihat hilal untuk mengetahui waktu dimulai dan diakhiri berpuasa, maka ayat tersebut pun merupakan perintah untuk melihat matahari untuk mengetahui waktu-waktu shalat.

Dengan demikian, keterlihatan hilal sama sekali tidak menjadi sabab al-hukmi berpuasa atau berlebaran, melainkan hanyalah pertanda waktu saja.

Jika keterlihatan hilal bukan sabab al-hukm, lalu apa yang sesungguhnya yang menjadi sabab yang mengharuskan bepuasa atau berbuka itu? Bukankah setiap perbuatan hukum di samping memiliki syarth al-hukm juga memiliki sabab al-hukm? Jika hadits-hadits tersebut, dipahami secara utuh maka yang menjadi sabab al-hukm adalah keberadaan (wujûd al-hilâl). Pada saat dilakukan istikmâl, hilal tidak terlihat, tetapi berpuasa atau berbuka (hari raya) sudah wajib karena hilal (pertanda bulan baru) sudah dapat dipastikan (diyakini) sudah wujud; sudah terjadi perpindahan bulan, dari bulan Ramadhan ke bulan Syawal. Kepastian itu diperoleh, karena tidak ada tanggal/hari ke-31 pada bulan-bulan Qamariyah, sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.  Jadi dengan demikian yang menjadi sabab al-hukm adalahwujûd al-hilâl bukan ru’yat al-hilal. Hal ini sejalan dengan pengertian sabab al-hukmi menurut Ushul fiqh,

ما يلزم  من وجوده الوجود ومن عدمه العدم لذاته[5]

atau dalam rumusan yang lebih jelas:

ما يستلزم من وجوده وجود الحكم ومن عدمه عدم الحكم

Sedang untuk dapat mengetahui waktu-waktu itu, saat ini tidak harus dengan ru`yat saja. Ru’yat al-hilalhanyalah salah satu cara untuk mengetahui waktu, bukan substansi atau bagian integral dari ibadah shaum, sama halnya dengan melihat matahari untuk mengetahui waktu-waktu shalat.

Kedua,
إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا

Keterlihatan hilal sebagai yang disebut dalam matan hadits di atas, bukanlah syarth al-hukm (syarat wajib berpuasa atau berbuka), sekalipun diawali dengan kata “idza”. Karena kelanjutan dari matan hadits tersebut menjelaskan sekalipun hilal tidak terlihat,  manakala bulan sudah 30 hari menjadi wajib berpuasa atau berbuka. Jika keterlihatan hilal itu menjadi syarat, niscaya ketika tidak terlihat tidak ada kewajiban berpuasa atau berbuka, sebagai yang ditegaskan al-Qarafi bahwa yang disebut syarat itu,

بأن الشرط يلزم من عدمه العدم ولا يلزم من وجوده وجود ولا عدم لذاته

atau dalam rumusannya yang sederhana:

مالا يستلزم من وجوده وجود الحكم و يستلزم من عدمه عدم الحكم

Ketiga,

لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدد العدة ثلاثين

Dengan matan hadits ini pun, tidak dapat dipahami sebaliknya (dalalah mafhum mukhalafah) karena ada kata “hatta”  (mafhum ghayah); manakala hilal belum terlihat menjadi tidak wajib berpuasa dan berbuka. Karena pemahaman sebaliknya bertentangan dengan penjelasan dari  kelanjutan matan tersebut yang secara langsung dan tegas  menunjukkan (dalalah manthuq) sekalipun tidak terlihat manakala bilangan bulan sudah tiga puluh (hasil istikmal), tidak bisa tidak kecuali harus berpuasa atau berbuka.

Mengingat keterlihatan hilal itu bukan sebab dan juga bukan syarat keharusan berbuka dan berpuasa, tetapi yang menjadi sebab itu adalah keberadaan hilal (wujud al-hilal), maka kriteria hisab pun tidak harus “dianalogkan” dengan ru`yatul hilal dengan menetapkan kriteria imkan al-rukyat. Itulah sebabnya, kriteria hisab yang diambil oleh Muhammadiyah adalah kriteria wujûd al-hilâl.

[1] Muhammad ‘Abd al-Raòmân ibn ‘Abd al-Raòîm al-Mubarakfuri. Tuòfaú al-Aòwaíi bi Šarò Jâmi‘ al-Turmuíî. (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah. t.th.) (10 Juz).

[2] ‘Abd al-Rauf al-Manawi. Fayæ al-Qadîr Šarò al-Jâmi‘ al-Èagîr. (Mièr: Al-Maktabaú al-Tijâriyaú al-Kubra. 1356). Cetakan Pertama. (6 Juz). Juz IV. hlm. 214.

[3]Lihat Taqiy al-Dîn Abû al-Fatò ibn Daqîq al-‘Îd, Iòkâm al-Aòkâm Šarò ‘Umdaú al-Aòkâm, (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyaú, t.th.) Juz ii, hlm. 205-207; Muhammad ibn ‘Ali al-Šawkânî, Nayl al-Awùâr Šarò Muntaqâ al-Aóbar, (Bayrût: Dâr al-Jayl. 1973), Juz IV, hlm. 264, 351.

[4] Q.S. al-Isra [17]: 78. uraian dan penjelaannya lihat: Tafsîr al-Bayæawî, Juz III/hlm. 80; Juz III/hlm. 462; juz V/hlm 348. Tafsîr Abî Su‘ûd, Juz V/hlm: 189; Tafsîr Rûò al-Ma‘ânî, Juz IIi/hlm 131; Juz XV/hlm 132.

[5] Lihat: `Abd Allah ibn Ahmad ibn Qudamah al-Maqdisi. Rawdhah al-Nadhir. Al-Riyadh: Jami`ah al-Imam Muhammad ibn Su`ud.1399. Cetakan Kedua. Hlm. 57. C.f. `Ali ibn `Abd al-Kafi al-Subki. Al-Ibhaj. Bayrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah.1404. Cet. Pertama. Juz I. Hlm. 206.