Kamis, 22 Mei 2014

BANTAHAN PEMAHAMAN LDII

1. Telah aku (Muhammad) tinggalkan di kalangan kamu sekalian 2 perkara. Tidaklah akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya. (2 perkara tersebut adalah) Kitabnya Alloh (Al Quran) dan Sunnah Rosul-Nya (Al Hadits) (HR Hakim dalam Al Muwattho') 

_________________
Ya setuju, tapi harus berdasarkan pemahaman ulama-ulama yang terpercaya lagi banyak… karena tidak mungkin Ulama sebagai pewaris para nabi seakat dalam penyesatan, tapi jika Ia sendiri kemungkinan KELIRU MEMAHAMI adalah sangat besar..

Dalilnya :

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (jama’ah muslimin atau pemahaman jumhur (kebanyakan) ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah 
bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

2.  
Ma’na menurut bahasa: Asal kata: جَمَعَيَجْمَعُجَمْعًا / جَمَاعَةً artinya kumpulan atau himpunan. Jadi menurut bahasa Al-Jama’ah adalah kumpulan atau himpunan tertentu bukan sembarang himpunan atau kumpulan. • Ma’na menurut istilah: Yang dimaksud dengan AL-JAMA’AH adalah JAMA’ATUL MUSLIMIN sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Khudzaifah bin Al-Yaman yang berbunyi: 
…تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ… “… Engkau tetap pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka …”
__________________
Jika masih menggunakan kata “Jamaah” maka memang belum jelas yang dimaksud jamaah yang mana, sedang kata “Jamaatul Muslimin” itu juga masih belum jelas jamaah yang mana?? Karena jika bersandar pada menetapi jamaah muslimin dan imam mereka, maka syiah saja berjamaah dan punya imam, torekot naksabandiyah juga berjamaah dan punya imam, Ahmadiyah juga berjamaah dan juga punya imam…

Mari kita lihat hadits ini secara utuh…

Dari sahabat Khudzaifah bin Yaman radiyallahu anhu, ia berkata : “Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, karena aku khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka aku bertanya : “ Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? Rasulullah menjawab : “Benar!” aku bertanya : Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan? Rasulullah menjawab : “Benar tetapi didalamnya ada kekeruhan (dakhon / asap).” Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku (menurut riwayat muslim: “Kaum yang berperilaku bukan dari sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku), engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu aka ada lagi keburukan? Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang menyeru ke pintu-pintu jahanam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya kedalam jahanam itu.” Aku bertanya:”Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasulullah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah kita.” Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah bersabda: “Tetaplah pada Jama'ah Muslimin dan Imam mereka.” Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “ Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh (golongan yang berpecah-belah) itu semuanya, walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjemputmu engkau tetap demikian.” (H.R. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah: II/475. Lafadz Al-Bukhari).

Pada bagian ini telah jelas :

“Tetaplah pada Jama'ah Muslimin dan Imam mereka.” Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “ Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh (golongan yang berpecah-belah) itu semuanya,

Jika tida ada bagi mereka jamaah dan imam =  kemungkinan hal ini pasti ada dan telah ada.. makanya rosul menunjukan caranya untuk uzlah dan justru menjauhi dari perkara-perkara firqoh… yaitu umat Islam yang berkelompok dan membangga-banggakan golongannya, merasa paling benar dan yang lain salah .. mari kita lihat dalil :

“Janganlah kamu seperti orang-orang musyrik, yaitu mereka mencerai beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Setiap golongan membanggakan apa yg ada pada mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “
akan muncul suatu firqah/sekte/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (HR Muslim 1773)

Firqah atau sekte adalah kaum yang mengikuti pemahaman atau pendapat seorang ulama yang pemahaman atau pendapatnya telah keluar (kharaja) dari pemahaman jama’ah muslimin atau (as-sawad al a’zham )

Lihat ayat perumpamaan para penyembah Imam (Pemimpin) dalam istilah RAHIB :

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya

Begitulah kenyataannya, jika sang imam telah berijtihad tentang sesuatu meski ijtihadnya tidak dibenarkan dalam dalil atau tidak sesuai, maka mereka para umatnya toat dan mengiyakan.

3. BAGAIMANAKAH DENGAN DALIL YANG MENGATAKAN KEIMAMAN ITU HARUS DARI QURAISY Dalil ini memang ada tapi dalil imam dari orang quresy itu hanya untuk KeKholifahan/imam Sedunia . Dan sekarang mustahil bisa di kerjakan karena saat ini tiap tiap negara sudah mempunyai batasan /Teritorial masing2, sehingga Tiap tiap negara berhak mendirikan keimaman ( Negaramu Imamu)

Periodisasi Masa Kekhilafahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehandak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemu- dian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/273, Al-Baihaqi, Misykatul Mashobih hal 461
______________________
Hadits tersebut tidak nyambung dengan perkataan : Dan sekarang mustahil bisa di kerjakan karena saat ini tiap tiap negara sudah mempunyai batasan /Teritorial masing2, sehingga Tiap tiap negara berhak mendirikan keimaman ( Negaramu Imamu)

“berhak mendirikan keimaman” hak atas apa dan dengan dalil apa?? yang benar adalah berhak mendirikan keamiran (kepemimpinan), secara umum amir itu diangkat oleh umat atau ditunjuk oleh kholifah, berkaitan karena kholifah umat muslim tidak ada, maka saat ini umat Islam kembali kepada masa Jahiliyah, keadaanya adalah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Lalu pertanyaan agar tidak dianggap memecah belah Islam?? Maka tetapilah apa yang telah diperintahkan rosul, yaitu tetap pada jamaah muslimin dan toat kepada pemimpin-pemimpin kita.

Kewajiban toat kepada pemimpin adalah karena hak pemimpin, mana yang terlebih dahulu?? Kewajiban toat atau hak ditoati?? Tentu karena munculnya duluan pemimpin maka hak di toati adalah yang semestinya dilakukan terlebih dahulu.

Ingat Sabda Rosul “……
Berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah akan memintai pertanggungjawaban terhadap urusan yang dibebankan kepada mereka”

dengan memenuhi hak mereka maka gugurlah kewajiban kita. Pointnya apa?? pointnya adalah dalam kondisi apapun dan seperti apapun jika umat Islam telah sepakat dengan pemimpin terpilih (Presiden) maka kita harus memenuhi hak ketoatan kepada mereka, kecuali pemimpin-pemimpin kafir.

Kesimpulannya :
1. Toatilah pemimpin yang telah disepakati selagi tidak mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah.
2. Tetaplah pada jamaah Muslimin, yaitu jamaah yang Rosul dan Para sahabat berada di atasnya yaitu jamaah Islam yang hak di bawah kepemimpinan Rosulullah SAW ila yaumil kiyamah, yang nanti berdasarkan kuasa Allah akan muncul khilafah ala minhajun nubuwah yang dijanjikan.
3. Jauhi firqoh, yaitu jamaah yang mengikuti pemahaman atau pendapat seorang ulama yang pemahaman atau pendapatnya telah keluar (kharaja) dari pemahaman jama’ah muslimin atau (as-sawad al a’zham ).

Wallahu ‘alam bis showab…




Tidak ada komentar:

Posting Komentar