Oleh: Imam Suhadi
Orang sekarang ini dengan mudah mengklaim golongan dan jamaahnya
sebagai golongan dan jamaah yang selamat. Selain pengikut jamaahnya adalah
sesat dan tidak selamat. Karena hal ini, banyak orang yang “kebingungan dalam
beragama”, dan sangat mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: “Siapakah
seseungguhnya golongan yang selamat itu?”
Dalam Surat al Fathihah, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa manusia
terbagi atas tiga golongan saja, yaitu:
1. Golongan
yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
2. Golongan
yang Dimurkai.
3. Golongan
yang Sesat.
Mengacu kepada ayat tersebut sesungguhnya sangat jelas sekali,
bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
Mereka adalah orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yang dijelaskan
dalam (QS 4:69), bahwa:
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:
An-Nabiyyin, Ash-Shiddiiqiin, Asy-Syuhadaa (QS 57:19) dan Ash-Shalihiin (QS
19:9). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”
Tapi pertanyaannya, di masa ini, kelompok yang manakah yang
sedang berada di atas Shirat Al-Mustaqiim itu? Kita akan membahas ini di akhir
artikel.
SHIRATH AL-MUSTAQIIM
Banyak orang menganggap bahwa Shiraath Al-Mustaqiim ini
‘abstrak’ dan hanya akan dapat ditemui di akhirat. Dalam Al Qur’an Shiraath Al
Mustaqiim dijelaskan sebagai:
1. Ad-Diin (Agama) yang tegak
Ketika seorang beragama, dan dalam pelaksanaan agamanya ia belum
berada di atas Shirath Al Mustaqiim, sesungguhnya agamanya itu belum tegak
(hakiki).
“Dan apabila ia telah berada di atas Shirath Al Mustaqiim, maka
sesungguhnya diin dalam dirinya telah tegak.” (QS 6:161)
Shiraath akar katanya berarti tertelan (menurut Quraish Shihaab),
Al Mustaqiim berarti adalah orang yang berada dalam keadaan istiqamah
(mantap/konsisten). Artinya, orang yang berada di Shiraath Al Mustaqiim, adalah
orang yang telah tertelan dalam keistiqamahan kepada jalan Allah. Tidak akan
lagi bergeser kepada kekufuran.
Orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim dijaga oleh Allah
Ta’ala dari mengarah kepada kesalahan, dimana penjagaannya bagaikan dipegangnya
ubun-ubun binatang melata. (lihat Q.S 11:56). Dan sesungguhnya Allah Ta’ala
yang menjaga Shiraath Al Mustaqiim (lihat Q.S 15:41).
2. Jalan Orang yang Diberi Nikmat
Karena orang-orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim,
dijaga oleh Allah Ta’ala dari kesalahan, maka mereka inilah orang-orang yang
diberi nikmat. (Q.S 1:7)
Untuk itu nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat
harta benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh
Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala, karena Allah
Ta’ala pun berada di atas Shiraath Al Mustaqiim (Q.S 11:56).
3. ‘Jalan’ Allah
Orang yang selamat hanyalah mereka yang berada di atas Shiraath
al Mustaqiim. Shiraath al Mustaqiim inilah sesungguhnya merupakan ‘jalan’
Allah.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini Shiraath al
Mustaqiim’. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian
bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini
kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau
membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu
diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’ (QS [6] : 153)” (Hadits
shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)
MENUJU SHIRATH AL-MUSTAQIIM
Untuk menuju Shiraath al Mustaqiim, Allah Ta’ala telah dengan
jelas menginformasikan kepada kita tentang prosesnya di al Qur’an. Media Allah
Ta’ala membimbing seorang manusia menuju Shiraath Al Mustaqiim adalah dengan
petunjuk-Nya.
Petunjuk Allah Ta’ala ada 2 (dua) jenis: (1) Petunjuk Umum dan
(2) Petunjuk Khusus.
Petunjuk Umum, adalah Al Qur’an yang merupakan petunjuk untuk
seluruh manusia. Sedangkan Petunjuk Khusus, adalah petunjuk yang Allah Ta’ala
turunkan kepada manusia secara individual, orang perseorangan langsung ke dalam
qalbunya.
Petunjuk khusus ini akan Allah Ta’ala turunkan apabila seorang
manusia menjalankan substansi nilai-nilai yang dipandu dalam Petunjuk Umum.
Tahapan-tahapan ini dijelaskan dalam ayat berikut:
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke Subulussalam, (jalan-jalan keselamatan) dan (dengan kitab itu
pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang
terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke Shiraath al
Mustaqiim.” (Q.S. 5:16)
Sayangnya kebanyakan manusia –karena ia tidak merasakannya-
memungkiri bahwa sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari
Allah Ta’ala melalui qalb-nya. Mereka menganggap bahwa yang bisa menerima
petunjuk langsung dari Allah Ta’ala hanyalah para Nabi, dan hal itu telah
tertutup dengan khatamnya para Nabi. Padahal ayat-ayatnya sudah demikian jelas
di al Qur’an.
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan
memberi petunjuk langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (Q. S. 64:11)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.” (Q.S.
10:9)
Dan sesungguhnya apabila kita tidak termasuk dalam golongan yang
mendapat petunjuk Allah kepada Shiraath al Mustaqiim, niscaya kita hanya akan
termasuk ke dalam golongan yang sesat.
“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. 6:77)
Untuk terpimpin kepada Shiraath Al Mustaqiim, syaratnya adalah
mampu mendapat petunjuk langsung dari Allah ta’ala, dan syarat untuk mendapat
petunjuk langsung itu adalah iman.
Namun iman yang bagaimana? Apakah iman yang sekedar
definisi-definisi dan dalil-dalil? Jawabannya adalah “Bukan!”.
Iman yang menjadi syarat seorang mendapat petunjuk dari Allah
Ta’ala, adalah iman yang berupa cahaya (nur iman), yang Allah Ta’ala
anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat (pertolongan)-Nya untuk mensucikan
qalb-nya.
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Q.S. 2:257)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua
bagian, dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat
berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Q.S. 57:28)
Dan bagaimana sesungguhnya untuk mendapatkan cahaya iman
tersebut? Allah berkata, syaratnya adalah Islam.
“Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah
(kepada mereka):” Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami islam’, karena
iman itu belum masuk ke dalam qalbumu.” (Q.S. 49:14)
Dari ayat di atas, dapat kita cermati bahwa mereka yang
ber-islam tidak serta merta langsung menjadi beriman. Mereka yang Islam bisa
jadi belum beriman, karena Islam dan Iman merupakan dua tahap yang
berkelanjutan/sekuensial.
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah qalb-nya (untuk)
ber-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu
hatinya)?” (QS. 39:22)
Namun Islam, bukanlah sekedar “formal Islam”- nya, tetapi lebih
dalam dari itu adalah menjalankan substansinya, yaitu: penyerahan diri kepada
Allah. (Catatan: Islam secara dasar kata berarti berserah diri). Dan inilah
sesungguuhnya substansi dasar ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam al Qur’an.
PESAN UTAMA AJARAN ILAHIYYAH
Allah Ta’ala mengutus setiap utusannya, sejak zaman Adam as
sampai Nabi Muhammad SAW, adalah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah
Ta’ala. Lihatlah ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:
Nuh A.S
“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah
sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku
(Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri
(kepada-Nya)”. (Q.S. 10:72).
Ibrahim A.S
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani,
akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan
sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S. 3:67).
Musa A.S
“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka
bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri“.
(Q.S. 10:84).
Ya’qub A.S
“Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu
(bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu
gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu
barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu)
hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja
orang-orang yang bertawakal berserah diri“. (Q.S. 12:67).
Sulaiman A.S
“Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat
zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb
semesta alam”. (Q.S. 27:44).
Isa A.S
“Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”,
dan adalah aku menjadi saksi (syahiidan) terhadap mereka”. (Q.S.5 :117).
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah
dia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah” Para
hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada
Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah
diri.” (Q.S. 3:52).
Muhammad SAW
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW)adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:162-163)
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi
orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:14)
Penyerahan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dimana seluruh
aspek kehidupan diperuntukkan untuk Allah (yang mempunyai 99 asma) semata,
merupakan pesan utama ajaran ilahiyah. Sehingga disampaikan oleh para utusan-
Nya setiap zaman.
Berserah Diri dengan tulus ikhlas dalam setiap aspek adalah
kondisi dimana seseorang bersedia diatur sepenuhnya oleh Allah (menjadi budak
Allah Ta’ala), tidak mengatur dirinya sendiri dengan hawa nafsu dan syahwatnya.
Ajaran (Ad- Diin) yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah Ad-Diin Berserah Diri kepada
Allah Ta’ala untuk itulah dinamakan Ad-Diin Al Islam. Ikhlas menyerahkan diri
kepada Allah dan muhsin, itulah Ad-Diin yang paling baik.
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang
ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi
kesayanganNya.” (Q.S. 4:125)
Berserah Diri kepada Allah Ta’ala dan muhsin, maka ia telah
berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang
dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang kokoh.Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
(Q.S. 31:22)
Keberserahan diri kepada Allah Ta’ala ditopang oleh empat sendi
utama, yaitu: Sabar, Syukur, Tawakal dan Ikhlas. Bagaimana mungkin seorang akan
menjadi seorang muslim yang utuh, apabila qalbunya tiada pernah bersabar atas
segala masalah hidupnya? Selalu mengeluh dan tiada pernah bersyukur terhadap
segala hal yang Allah berikan kepadanya?
Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a :
“Telah bersabda Rasulullah SAW : ” Sungguh-sungguh akan datang
atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana
sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di
kalangan Bani Israil orang yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan
ada diumatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah
terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua
mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat. Para shahabat
bertanya: “Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?” Rasulullah
menjawab: ” yaitu golongan yang mengikuti Aku ada padanya pada hari ini dan
yang mengikuti para Sahabatku.”
Hadits ini diriwayatkan lengkap oleh Tirmidzi, diterangkan pula
oleh Hakim juz yang pertama, Ibnu Wadhoh, Imam Al-Azurri dalam kitabnya As-
Syari’ah, Ibnu Nasr Al-Marwaji dalam kitabnya As- Sunnah Al-Laalikai, Abdul
Qahir Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Faruq bainal Firaq) Hadits ini dikatakan
oleh Tirmidzi HASAN GHARIB, Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi bukan karena
secara sanad shahih, tetapi menghasankan karena Syawahidnya yang banyak. Hadits
ini HASAN.
Dari Sahabat Abu Hurairah r.a : “Yahudi telah berpecah menjadi
71 golongan, dan Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, dan akan berpecah
umatku menjadi 73 golongan.” (Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban,
Al-Azzuri, Hakim, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Abi Asim)
Dan Tirmidzi berkata hadits ini HASAN SHAHIH. Hakim berkata
SOHIHUN ala Shahih Muslim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi.
Dari Sahabat Auf Bin Malik r.a : “Yahudi berpecah menjadi 71
golongan, 1 masuk sorga dan 70 masuk neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi 72
golongan, 71 masuk neraka dan 1 masuk sorga, Dan demi yang diri Muhammad ada
ditangan-Nya, sesungguhnya umatku sungguh-sungguh akan berpecah menjadi 73
golongan, 1 di sorga dan 72 di neraka; kemudian sahabat bertanya: ‘Ya
Rasulullah, siapa mereka yang selalu satu itu yang masuk dalam surga (Wahidatun
Fil Jannah)?, dijawab oleh Nabi SAW, yaitu ‘Al-Jama’ah‘” (Ibnu Majah, Ibnu Abi
Asim dalam As-Sunnah, Imam Al-Laalikai)
Hadits ini di SHAHIH-kan oleh para ulama.
“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh
dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa
hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak.
Karena itu berpengang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin
yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan
hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara
yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap
yang sesat adalah tempatnya di dalam Neraka).” (H. R. Nasa’i dan At-Tirmidzi,
ia berkata hadits ini hasan shahih).
Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli
kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya
agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh
puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga,
yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lainya. Al-Hafidz menggolongkannya
hadits hasan)
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu
(yaitu) yang aku dan para shahabatku meniti di atasnya.” (HR. Ahmad dan yang
lainya. dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219).
Dari keterangan diatas, pola apa yang terlihat? Di masa yahudi,
dari 71 golongan, 70 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa berikutnya,
Nasrani, dari 72 golongan, 71 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa
selanjutnya, dari umat Rasul SAW terbagi menjadi 73 golongan, 72 tidak selamat
dan 1 selamat. Lihatlah, betapa di setiap pergantian ajaran kenabian selalu
bertambah satu golongan yang tidak selamat, sedangkan yang selamat tetap satu
saja.
Sesungguhnya satu golongan yang selamat sejak dulu Yahudi,
Nasrani dan Umat Muhammad SAW adalah sama. Tidak berubah. Merekalah orang-orang
yang mendapat petunjuk Allah langsung ke Qalbu, sehingga terpimpin ke Shiraath
Al Mustaqiim.
Kenapa setiap pergantian ajaran Nabi bertambah satu golongan?
Karena satu golongan itu adalah golongan yang hanya menjadi merasa bangga
dengan formal golongannya, tetapi substansi ajaran agama Ilahi dilupakannya
atau tidak dikenalnya.
Satu golongan yang selamat adalah Al Jamaah, merekalah yang
Rasulullah SAW dan sahabat berada di atasnya. Secara eksplisit dalam Al Qur’an
dikatakan merekalah orang yang berada di atas Shiraath Al Mustaqiim, siapapun
ia dan darimana pun asal (nama) jamaahnya.
Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf,
tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy,
Muhammadiyah, NU, atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari
Tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir,
Salafy, Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung
dari Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al
Jamaah.
Karakter mereka sejak zaman Adam, Yakub, Musa, Isa, Muhammad
adalah sama. Merekalah yang mencintai Allah lebih dari dunia. Merekalah
orang-orang yang mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya (bahkan mampu
menggembalakan hawa nafsu dan syahwat dirinya dalam ber-’agama’).
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggal(nya)”. (Q.S. 79:40-41)
Merekalah orang mati dalam keadaan berserah diri, al muslimuun).
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,
demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
berserah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 2:132)
“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq,
Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para
nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membedabedakan seorangpun di antara mereka
dan hanya kepada- Nya-lah kami menyerahkan diri“. (Q.S. 3:84)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar